Follow Us @sangmaya

Saturday, March 4, 2017

BODAS NOVEL BAB 2 - Jangan Rusak Rantainya



Jangan Rusak Rantainya

Tugas pertamaku adalah, mencegah kematianku dari dan menjadi nol.

Awalnya aku tidak tahu kenapa jalan tempatku tinggal diberi nama Wan Sagaf seperti nama marga orang Arab. Padahal di kanan, kiri, depan, dan belakang Jalan Wan Sagaf diberi nama pepohonan seperti Jalan Cendana, Jalan Meranti, Jalan Beringin dan berbagai nama pepohonan lainnya. 

Setelah Kakek bercerita nama asal usul Jalan Wan Sagaf, ternyata jalan ini dan beberapa fasilitas umum di dalamnya dibangun oleh keluarga Arab bermarga Assegaf dan Al-aydrus.

Keluarga Al-aydrus secara turun temurun tinggal di Jalan Wan Sagaf. Keturunan Al-aydrus saat ini yang kukenal adalah keluarga Uwak Syarif. Rumahnya persis di belakang masjid berkubah besar, Masjid Nurul Hidayah.

Masjid Nurul Hidayah tempat aku mengaji dan menunaikan ibadah Salat Maghrib, hanya Salat Maghrib. Salat wajib lainnya aku lakukan di rumah, sedangkan Kakek, dan Om Akmal biasanya Salat lima waktu di masjid. 

Menunaikan Salat Maghrib di masjid, karena aku bersama teman-teman belajar mengaji sore hari dengan Ustaz Rusli. Kenapa aku belajar mengaji karena teman-teman bermainku juga belajar di situ. Bahkan Ponti yang tiap minggu pagi ke gereja juga suka ikut main di masjid, tetapi tidak ikutan mengaji, hanya ikut main saja.

“Bismillahirrahmanirrahiim
Iqra’ biismi rabbikaladzi holaq.
Khalaqal insaana min ‘alaq.
 Iqra’ warabbukal akram.
Aladzii’alama bil qalam.
Aalma-insana ma lam ya’lam…”

Lantunan Ayat Suci Alquran dari murid-murid pengajian Ustaz Rusli. Sebagai pembuka pembelajaran.

“Bodas, coba bacakan terjemahan surah Al-Alaq satu sampai lima,” perintah Ustaz Rusli.

“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan…Dia telah menciptakan manusia dengan segumpal darah… Bacalah, dan Tuhanmulah yang paling pemurah... Yang mengajar manusia dengan perantaran wahyu… Dia mengajarkan kepada manusia, apa yang tidak diketahuinya.”

“Bagus. Nah, Anak-anak. Ada yang mengerti kandungan apa yang terdapat dalam surah Al-Alaq satu sampai lima ini?”

“Membacaaaa…” jawab semua murid TPA.

“Apa keutamaan membaca?”

“Biar pintaaarrrr.”

“Iya betul, kenapa harus pintar?”

Semua diam dan bingung menjawab pertanyaan Ustaz Rusli.

“Biar naik kelas,” jawabku.

“Iya, Bodas. Terus kenapa harus naik kelas?”

“Biar enggak dipukul dan dikurung ibu,” jawabku dalam hati.

“Biar bisa lulus sekolah dengan nilai tinggi, terus dapat bantuan beasiswa, untuk masuk ke jenjang sekolah berikutnya,” jawab Yoyok dengan mantap.

“Boleh. Ada lagi yang lain yang mau jawab?” semua diam.

“Kita membaca, agar menjadi pintar, agar bisa naik kelas. Itu semua boleh. Tetapi inti dari membaca, sebenarnya adalah cara agar kita menjadi berilmu, dan menjadi muslim yang lebih baik. Sehingga Allah ridha dengannya.”

Innamal a’mallu binniat…semuanya berawal dari niat. Jika niat kalian membaca, dan belajar karena dan untuk Allah. Jika yang kalian lakukan semuanya untuk mencari ridha-Nya. Maka ilmu itu tidak akan hilang, dan berubah menjadi keabadian di surge. Paham anak-anak?”

Semua diam mencerna apa yang barusan disampaikan oleh Ustaz Rusli.

“Bagaimana bisa, kita melakukan segala sesuatu untuk Tuhan, Taz? Kita saja tidak pernah ketemu, tidak pernah mengenalnya,” tanyaku heran.

“Itulah masalahnya.”

Ustaz Rusli tersenyum padaku, lalu melihat semua murid-murid lainnya.

 “Kebanyakan manusia bahkan tidak mengetahui siapa Tuhan, dan inilah tugas pertama dalam hidup kita sebagai manusia. Mengenal-Nya,” papar Ustaz Rusli.

“Caranya, Taz?”

“Bacalah! Cari tahu!” 
Belajar Mengaji Di Masjid


***
Istri dan kedua anak Ustaz Rusli, tinggal di halaman belakang masjid. Rumah itu dibangun oleh dewan pengurus Masjid Nurul Hidayah agar Ustaz Rusli, yang lulusan pondok pesantren asal Jawa dapat menjadi marbut masjid. Mulai dari sebagai Muazin, Pengajar TPA, sampai bersih-bersih masjid. 

Ibu Zainab, atau biasa kami panggil Ustazah Zainab, istri Ustaz Rusli. Kakinya buntung sebelah, sehingga harus berjalan dengan dua tongkat. Akan tetapi Ustazah Zainab tetap menjadi wanita yang mandiri, ia mempunyai usaha rajutan dari tali kur, yang dijual Ustaz Rusli dengan berkeliling rumah ke rumah. 

Usaha rajutan tali kur Ustazah Zainab, cukup terkenal di kalangan ibu-ibu PKK. Motif tas yang dibuat Ustazah Zainab adalah motif corak insang. Motif berbentuk garis zig-zag yang teratur, menjadi salah satu ikon Kota Pontianak. 

Dalam satu hari, Ustazah Zainab bisa menyelesaikan satu buah tas pesanan orang. Bukan hanya tas dari tali kur, Ustazah Zainab juga bisa membuat sepatu bayi, kopiah, baju anak-anak, sampai horden,  dan banyak lainnya dari benang tali.

Kami pernah diajarkan Ustazah Zainab cara menganyam tali kur, agar menjadi sebuah tas. Beberapa anak ada yang berhasil. Yoyok paling cepat belajar dan paling duluan jadi. Sedangkan anyaman taliku kusut amburadul, tidak mungkin bisa menjadi tas, tetapi karena kesabaran Ustazah Zainab, tali kusut itu terurai kembali, dan beliau membantuku dengan telaten sampai tas itu jadi.

***
 “Menjadi bahagia itu sederhana. Tak perlu menjadi orang hebat atau luar biasa untuk menjadi bahagia,” ucap Ustazah Zainab ketika menggantikan Ustaz Rusli mengajar, apabila Ustaz Rusli sedang sakit atau sedang ada keperluan lain.

“Gimana kita mau bahagia, kalau minta belikan mainan tidak dikasi.”

“Enggak penting banget omongannya,” ucapku dalam hati. Setelah mendengar celetukan salah satu teman TPA.

“Bagaimana kita bisa bahagia, jika tiap hari dimarahi Orangtua, Bu?” tanyaku pada Ustazah Zainab.

“Bagaimana kita bisa bahagia, kalau keluarga kita ada yang menangis kelaparan?” tanya Yoyok.

“Seseorang mengalami kebahagiaan, saat ia mampu berdamai dengan dirinya sendiri. Ketika ia mampu mengatasi berbagai penderitaan, ujian, dan penyakit hati seperti marah, kecewa, sedih, iri, frustrasi, lapar dan lainnya.” Ustazah Zainab memandang kami semua yang diam menyimak.

“Penderitaan, ujian maupun kesedihan merupakan bagian dari kehidupan kita. Sama halnya dengan kebahagiaan dan sukacita. Bisa jadi hari ini kita menangis, besok hari kita tertawa. Bagaimanapun hidup tidak hanya diisi dengan hal-hal yang bahagia saja. Takut, marah, benci, jijik, kecewa, sedih, gembira dan senang, semuanya mewarnai hidup kita agar lebih indah. Agar kita lebih pandai bersyukur, kepada Tuhan.”

Kami semua mendengar dengan baik perkataan bu Zainab. Wajahnya yang teduh, menyampaikan inti dari arti kebahagiaan, membuat kami mengucapkan rasa syukur di dalam hati masing-masing.

“Cintailah diri kalian, tersenyumlah selalu, lakukan sesuatu untuk orang lain, dan berfikir positif agar kalian menjadi generasi yang membanggakan agama juga Negara.”

***

No comments:

Post a Comment