Follow Us @sangmaya

Sunday, March 5, 2017

BODAS NOVEL - BAB 4 - GOYAH



Goyah

Not until we are lost do we begin to find ourselves. (Henry David Thorcau)


Nina menatap makanan yang sudah dingin di depannya. Dua minggu lalu ia makan di tempat ini bersama Setio, kekasihnya yang baru saja meninggal akibat overdosis obat-obat terlarang. Sejak kematian Tio, Nina tidak lagi menyentuh obat-obatan terlarang yang biasa didapatnya dari Citra.

“Nin, kalau kamu masih begini terus, bisa jadi kamu yang nyusul Tio tau nggak!” Tika kesal melihat Nina tidak memiliki semangat hidup.

“Apaan sih kamu, Tika. Orang masih berduka juga,” omel Citra.

“Lagian dia juga sih! nggak jelas banget maunya apa. Udah berhari-hari kan dia kayak gini, buat capek tau nggak!” semprot Tika.

Nina menatap Tika dan Citra bergantian. Kedua teman yang ia kenal dari Tio semenjak kuliah di salah satu Universitas Negeri Pontianak. Salah memilih pergaulan membuat Nina menjadi pecandu narkoba banyak merugikan dirinya, menghabiskan uang pemberian orang tua, hanya untuk menikmati kebebasan semu. Sampai harus kehilangan Tio.

Secara materi segala kebutuhan Nina memang di sediakan oleh orangtuanya. Mulai dari kendaraan, uang saku, dan segala fasilitas lain untuk menunjang perkuliahannya. 

Kontrol diri dalam menentukan pilihan akan berfungsi, baik dengan adanya kesempatan, kebebasan, atau kemungkinan. Sayangnya kasih sayang dan kepercayaan dari keluarga ia rusak dengan memilih cara hidup yang salah.

“Nin, ini buat kamu gratis. Setidaknya bisa membuat pikiranmu tenang,” ucap Citra sambil menyelipkan bungkusan kecil berisi beberapa butir obat terlarang yang merusak kinerja jaringan syaraf manusia.  

Akhirnya, dengan gerak malas Nina berdiri. Ia melemparkan bungkusan tersebut ke tengah meja makan mereka. Citra dan Tika reflek menyambar berbarengan bungkusan itu, agar tidak dilihat oleh orang lain di sekitar mereka.

“Aku tidak butuh…dan kalian jangan lagi menemuiku.” Nina berkata datar sebelum pergi meninggalkan Citra dan Tika yang memandangnya dengan kesal.

Citra cepat berdiri dengan memukul meja. Dengan tangkas ia menarik lengan Nina yang belum jauh meninggalkan restoran tempat mereka makan siang. Sontak hal tersebut menjadi tontonan pengunjung restoran.

“Kamu nggak bisa pergi begitu saja setelah mengetahui macam-macam. Kamu pikir kami akan diam saja?” bisik Citra pada Nina agar tidak didengar orang.

“Maksudmu?” tanya Nina heran.

Tika cepat menghampiri mereka, untuk menjauhkan Citra dari Nina sebelum makin menjadi sorotan publik. Teman yang diyakini Nina menjadi sahabat karibnya dalam sekejap berubah menjadi musuh.

***

Nina menulis surat untuk keluarganya di Sintang. Ia menangis mengungkapkan semua penyesalan dan segala hal yang dirahasiakannya selama dua tahun berkuliah di Pontianak. Nina sadar bahwa dirinya, untuk sementara harus berhenti kuliah karena rehabilitasi sebagai upaya berhenti dari narkoba. 

Nokia 8110 kerap berdering di atas meja Nina selama ia menulis. Tetapi hatinya masih belum siap untuk berbicara dengan orang yang sangat disayangi dan mengasihinya selama ini. Bunda, sebuah nama yang tampak di layar handphonenya.

Suara gaduh dari ruang tengah rumah kontrakan membuat Nina terperanjat. Pelan ia membuka pintu kamar untuk melihat gerangan yang terjadi. Sosok bertopeng hitam berada di depan pintu kamar mendekap kepala Nina seketika, menggunakan sapu tangan yang telah diberi chloroform. Kesadaran Nina hilang tanpa sempat melakukan perlawanan.

***

Suara anak-anak di dalam rumah membuat Nina membuka mata perlahan. “To…long…” Lirih Nina setelah mengalami penganiyayan, yang membuatnya kesulitan bangun dari lantai. Ia mengumpulkan sisa-sisa tenaga untuk merayap menuju anak tangga. 

BRUKKK!!! Nina terjatuh di turunan anak tangga. Sekuat tenaga ia menggerakkan tangan untuk meminta pertolongan kepada anak-anak yang ia lihat di lantai bawah. Kesakitan membuat Nina tidak dapat bersuara. Anak-anak itu ketakutan akan keberadaan Nina dan lari meninggalkannya. 

Untungnya tak lama setelah itu dua orang pemuda masuk ke dalam rumah. Nina melihat pemuda-pemuda tersebut seperti mencari sesuatu di lantai bawah. Nina berharap dapat mengeluarkan suara sekalipun parau agar terdengar mereka. Sayangnya tidak bisa. Nina sudah tidak sanggup untuk bergerak lagi, nafasnya kian berat.

“Jangan tidur! Nanti kamu mati,” ucap seorang anak kecil berbaju merah yang tahu-tahu berdiri di sampingnya. Bocah itu menghilang seperti kabut setelah pemuda yang ia lihat tadi menembus tubuhnya.

“Aku ke sebelah cari bantuan, kamu tunggu bentar di sini.” Seru salah satu pemuda pada temannya. Sedangkan pemuda yang menemani Nina melepas baju untuk menutupi Nina yang tidak menggunakan pakaian apa-apa. 

Bocah berbaju merah yang tadinya hilang, kini berjongkok di samping Nina. Mereka hanya saling menatap dalam diam, sampai beberapa warga masuk untuk menolong Nina. Hanya Nina yang menyadari keberadaan bocah tersebut.

***

No comments:

Post a Comment