Follow Us @sangmaya

Sunday, March 5, 2017

BODAS NOVEL - BAB 5 - Bersamamu Aku Bahagia



Bersamamu Aku Bahagia

Having somewhere to go is a HOME. Having someone to love is a FAMILY. Having both of is BLESSING.

Phobia merupakan rasa takut pada suatu hal atau fenomena berlebihan. Hal ini akan berdampak pada emosi seseorang. Phobia biasanya disebabkan karena seseorang mengalami trauma masa lalu, dan biasanya trauma itu membekas di dalam kesadarannya.

Rasa takut pada hewan tertentu dikenal dengan istilah Zoophobia. Namun Zoophobia dipecah lagi istilahnya menjadi banyak jenis. Semisal phobia terhadap anjing atau yang disebut Cynophobia, burung Ornithophobia, laba-laba Acarhnopobhia, serta lebah Apiphobia.

Sewaktu kecil, wajah Sigit pernah dicakar oleh kucing yang digendongnya. Calar dari tiga cakar kucing masih dapat terlihat di pipi Sigit, sampai ia berusia sepuluh tahun. Membuktikan sakit dan dalamnya cakaran kucing itu. Kejadian tersebut membuat Sigit mengalami Ailurophobia[1].

 Sigit merasa terancam apabila hanya mendengar suara kucing, ia bisa lari terbirit-birit apabila ada kucing yang mendekatinya, dan paling parah Sigit pernah pingsan di warung bakso Mang Urip, karena kakinya pernah dielus kepala meong yang minta makanan di bawah meja.

Padahal Sigit termasuk anak yang suka menjahili kawannya. Tingkahnya di sekolah serasa anak sok jagoan, dan galak terhadap siapa pun, sehingga kebanyakan anak tidak mau bermain bersama Sigit.

“Mau main bola sama-sama.” Ajak seorang anak perempuan menggunakan baju kodok, dengan rambut dikuncir sebelah.

“Siapa juga yang mau main, sama cebol seperti kamu.”

BUKKK!!! Bola mendarat tepat di wajah Sigit.

“Aku enggak cebol!”

 “Berani juga ya kamu!”

Lapangan menjadi ramai karena pergumulan dua anak yang berkelahi. Dua-duanya sama-sama tidak mau kalah, main pukul, jambak, cakar, tendang, sampai keduanya bergumul di tanah. 

Anak-anak lainnya malah menyoraki perkelahian tersebut. Sampai Ibu Sigit datang memisahkan mereka. Perkelahian anak-anak sore itu, di lapangan bermain Jalan Wansagaf, menjadi perkenalan pertama antara Sigit dan Bodas.

***



Sigit Wardana. Bocah keturunan Dayak Barito. Tubuhnya tinggi berkulit sawo matang. Sigit merupakan anak pertama dari tiga bersaudara, kedua adik perempuannya kembar. 

Sebagai anak laki-laki pertama, Sigit selalu diwanti-wanti ayahnya yang seorang tentara Angkatan Udara, untuk menjaga ibu dan kedua adik kembarnya yang masih kecil.

Sigit sangat mengagumi dan mengidolakan ayahnya. Cita-cita Sigit ingin menjadi tentara Angkatan Udara seperti ayahnya. Hobi Sigit pun mengkoleksi berbagai miniatur pesawat terbang. Poster besar Sukhoi Su-27. Pesawat tempur milik Indonesia, yang diproduksi oleh Uni Soviet, terpampang di dinding kamar tidur Sigit.

Selain mengkoleksi miniatur pesawat, sigit juga hobi berolahraga. Sepak bola, basket, voli, bulu tangkis, lari dan renang ia kuasai. Dirinya juga diikutkan ayahnya latihan karate. Sehingga badan Sigit sekalipun masih kecil terlihat berotot dan kuat.

Sebagai anak tentara, kostum yang di gunakan Sigit tiap hari Kartini, adalah seragam tentara Angkatan Udara. Gayanya juga sudah seperti tentara. Berjalan tegak dengan membusungkan dada. 

Ayah Sigit berpesan, bahwa anak laki-laki tidak boleh cengeng. Anak laki-laki harus kuat, dan pemberani. Seharusnya Ayah Sigit, menyampaikan pesan pada anaknya, untuk tidak usil menggangu temannya.

***

“Bu Fauziaaaah!!!” teriak Ponti di ruang guru.”Bodas dan Sigit berantem lagi, Bu.”

Bu Fauziah menepuk jidat, dan menggelengkan kepala. Lagi-lagi Bodas dan Sigit. Tidak kapok-kapok Bodas dan Sigit dihukum akibat sering berkelahi di sekolah. Bahkan setelah orangtua mereka dipanggil pun, masih saja Bodas dan Sigit sering bertengkar dan membuat ribut seisi kelas.

“Kalian lagi, kalian lagi…” Bu Fauziah menghela nafas panjang.

“Sigit duluan, Bu,” kata Bodas.

“Bodas yang mulai!” teriak Sigit.

“Sigit naruh permen karet di kursi saya, Bu. Ini buktinya.”

Bodas menunjukkan rok merah bagian belakang, yang terdapat noda permen karet.

“Bohong bu! Bodas lah yang naruh boneka kucing di laci meja saya. Karena cuma dia yang tahu saya benci kucing!”

“MEEOOONG!!!” teriak Bodas sambil menunjuk ke bawah kaki Sigit. Sontak hal tersebut membuat Sigit meloncat kaget dan berlindung di balik badan Bu Fauziah.

“Cukup!!! sudah berapa kali kalian dinasehati untuk tidak berkelahi. Tetapi selalu saja kalian ulangi terus. Apa kalian mau diberhentikan dari sekolah, agar kalian tidak lagi berkelahi?” ucap Bu Fauziah kesal.

“Jangan, Bu,” jawab Sigit dan Bodas serentak memelas.

“Ini peringatan terakhir. Jika satu kali lagi ibu mendengar kalian berkelahi di sekolah, kalian akan ibu ajukan ke kepala sekolah untuk diberhentikan. PAHAM?!” 

“Jadi kalau di luar sekolah boleh?” tanya Sigit.

“Tentu  tidak! Awas saja kalau Ibu dengar kalian juga berkelahi di luar sekolah. Sekarang kalian salaman bermaafan!”

Bodas dan Sigit menunduk takut akan ancaman Bu Fauziah, yang biasanya lemah lembut tidak pernah marah. Malah tampak menakutkan apabila sedang marah. Sigit dan Bodas bersalaman tanpa saling memandang wajah.  

***

Sigit menangis sedih dari luar kaca ruang ICU di mana Bodas dirawat. Teman yang biasa ia ajak berkelahi, kini sudah lima hari tidak masuk sekolah, karena koma akibat tenggelam di bak mandi. 

Beberapa murid kelas C bersama bu guru Fauziah datang membesuk ke rumah sakit. Hanya bu guru Fauziah yang di perbolehkan masuk ke ruangan ICU, sedangkan anak-anak lainnya menunggu di ruang tunggu.

Bodas terlihat pucat, mulutnya menggunakan masker oksigen untuk membantu Bodas tetap bernafas. Tangan kanan dan kiri Bodas ditusuk selang infus. Aktivitas otak Bodas menurun, sehingga ia tidak menyadarkan diri, dan tidak merespon keberadaan orang lain di dekatnya. 

Hanya layar mesin elektrokardiograf[2] memperlihatkan garis naik turun, sebagai bukti bahwa jantung Bodas masih berdenyut. Satu faktor penting yang menyatakan manusia masih hidup, yaitu detak jantung.

“Bodas kapan bangun Bu? Bodas kapan masuk sekolah lagi?”

“Anak-anak yang sabar ya, kita doakan terus untuk kesembuhan Bodas secepatnya.”

“Bu…aku janji enggak akan nakal dan jahat lagi ke kawan-kawan, aku janji gak akan ribut lagi sama Bodas, asal Bodas bisa sembuh, asal Bodas bisa masuk sekolah lagi dan main seperti biasanya...Bodas jangan mati,” ucap Sigit sambil terisak-isak.

***



[1] Ketakutan berlebih terhadap kucing.
[2] Alat monitor jantung yang terdapat di ruang ICU.

No comments:

Post a Comment