Follow Us @sangmaya

Monday, March 6, 2017

BODAS NOVEL - BAB 6 - Musik Dalam Hati



Musik dalam Hati

I dream I was a King, I wake up still King. (Eminem)

“CINAAA! CINAAA!! CINAAA!!!” 

Sekelompok anak menggangu anaknya Maknyah Pingping. Anak ceking tersebut diam saja, mungkin sudah biasa baginya diganggu seperti itu. Tetapi saat seseorang mendorongnya sampai terjatuh. Aku, Yoyok, dan Sigit mulai mendekati mereka.

“Kalau mau main keroyokan, liat ukuran badan dong!” raut wajah Sigit tampak serius memandangi mereka satu-persatu. 

“Apa?! Kalian mau ikut campur? Ngajak berantem HAH?!” anak bertubuh paling gendut berbicara lantang. 

Salah seorang temannya si Gentong berbisik. “Itu Sigit. Jagoan di SD Khatulistiwa, dan sebelahnya lagi Yoyok, adiknya Bang Andi. Kalau ada apa-apa dengan adiknya, bakal dicari Bang Andi kita.”

Si Gentong hitam itu wajahnya mendadak pucat, lalu memberi aba-aba ke teman-temannya untuk mundur. Setahuku dalam urusan berkelahi memang belum ada yang mengalahkan Sigit selain Bang Andi. Wajar saja, Sigit kelas tiga SD, Bang Andi kelas satu SMA.

“Ada yang terluka?” tanya Bodas ke anak Cina ceking tersebut.

“Hatiku yang terluka…” jawabnya dengan nada mendayu-dayu.

Kriiik…Kriik…Kriiik……senyap sesaat.

“Pulang yuk, jangan diladen,” ajak Yoyok kepada kami.

“Tunggu!!! Kamu anaknya Bu Susan kan?” tanya anak Cina itu.

“Iya, memangnya kenapa?” jawab Yoyok.

“Rumah kita kan searah. Aku bareng kalian ya. Namaku Tan Jun Hok, panggil saja aku Tomi, panggil pakai nama kesayangan juga boleh. Tomtom.”

Yoyok, Sigit, termasuk aku merasa geli mendengar apa yang baru saja diucapkan anak Cina itu. Kesayangan? Tomtom?  


***

Semenjak diselamatkan dari Si Gentong. Tomtom jadi selalu mengikuti kami, katanya kalau bersama kami, dia tidak pernah lagi diganggu komplotan anak-anak nakal. Lagipula dia ingin bermain sama-sama anak Jalan Wansagaf, di mana rumahnya berada.

Tan Jun Hok, atau yang akhirnya kami panggil Tomtom, adalah anak pemilik warung kelontong di Jalan Wansagaf, Maknyah Pingping dan Ace Handoko. Anak bungsu dari enam bersaudara. 

Tubuh Tomtom kurus pendek, dilihat sekilas Tomtom sedikit mirip dengan Macaulay Culkin, pemain film komedi Home Alone yang sering diputar ulang saat Natal. Sifat Tomtom sebenarnya menyenangkan, tetapi apabila tingkah dramanya muncul, lebih sering menjadi menyebalkan.

Saat kami kelas empat SD Neneknya Tomtom meninggal. Jenazah tidak langsung dikubur, karena mencari hari baik untuk pemakaman. Selama tiga hari peti mati masih berada di rumah. Sepasang lampion putih menyala di depan rumah Tomtom, menandakan bahwa jenazah masih di dalam rumah. 

Para tetangga melayat ke rumah Maknyah Pingping. Tomtom dan seluruh keluarganya menggunakan baju putih, yang disematkan kain hitam di lengan mereka. Secara tradisi etnis Tionghoa keluarga Tomtom, apabila ada keluarganya yang meninggal, tidak diperbolehkan menatap jenazah sewaktu peti mau ditutup. Nisan sebelum seratus hari harus sudah jadi.  Anak almarhum tidak boleh potong kuku dan rambut sebelum seratus hari.

Tidak hanya itu, tradisi Tionghoa di keluarga Tomtom, ada doa tujuh hari, doa empat belas hari, doa seratus hari, dan doa tiga tahun bagi almarhum. Sembahyang kubur baru diperbolehkan setelah tiga tahun meninggalnya almarhum. Keluarga selama tiga tahun tidak boleh buat bak cang[1], tidak boleh buat thang yuen, dan tidak boleh ada pesta apapun, termasuk Imlek.

Tomtom menangis paling keras di pemakaman Neneknya. Ketika peti mati ditutup. Tomtom memeluk peti mati tersebut. Ia yakin Neneknya akan melakukan hal yang sama, apabila dirinya meninggal terlebih dahulu. Maknyah Pingping memberikan kode kepada salah satu anaknya, untuk menghentikan tingkah Tomtom.

“MENGAAPAAAA???????” teriak Tomtom sambil meratap keatas.

“Karena Nenek sudah berusia sembilan puluh sembilan tahun,” jawab Joshua, abangnya Tomtom. Sambil menjauhkan Tomtom dari peti mati.

Tomtom memandang abangnya dengan kesal karena mendapatkan jawaban secara harfiah.

“Apa? Aku salah?” tanya Joshua.

Kami yang hadir melayat bingung, antara harus ikut sedih atau tertawa melihat drama yang diberikan Tomtom barusan. Tetapi aku, Sigit, Ponti, Yoyok dan Linca sekuat tenaga untuk tidak tertawa di acara pemakaman Nenek Tomtom. 

***
            
           Tomtom memang tidak terlalu pintar dalam mata pelajaran sekolah. Satu hal yang paling ia kuasai adalah menari. Pernah Aku dan kawan-kawan lainnya melihat Tomtom sedang berloncat-loncat, berputar, sampai menggelepar-gelepar di tanah. Aku pikir dia sakit ayan. Tetapi makin lama diperhatikan, gerakan yang ia buat teratur dan keren. Tubuhnya mengikuti irama lagu yang dimainkan dalam tape. Musik yang ia mainkan pun membuat tubuh kami turut bergoyang.


            “Lagi ngapain itu buda’?” tanya Yoyok.

            “Kukira Tomtom kena kabel listrik, tapi sepertinya dia lagi asyik nari,” jawab Ponti.

            “Ini lagu apa sih Tom?”

            “Yo! ini namanya Hip Hop, Bro!”

            “Hip Hop?”

            “Gaul yo!”

            “Ngomong apa sih kamu?” Aku mulai heran dengan tingkah Tomtom.

            “Ini musik Hip Hop yo, tarian yang barusan kulakukan namanya break dance yo.”

            “Dari tadi  ya yo ya yo terus. Yoyok maksudmu?”

“Yo itu kata-kata keren rap per yo, bukan Yoyok yo.”

Tarian tadi apa namanya? belajar dari mana?”

            Breakdance yo. Belajar sendiri yo, ngikutin tarian yang ada di CD Hip Hop. Keren banget pokoknya. Pontianak masih jarang ada yo.”

            Aku mulai sedikit pusing memahami bahasa Tomtom, setiap ia berbicara diberi kata yo yo yo.

“Ada, tapi mungkin kita enggak tahu.”

“Bagus sih, tapi aku tetap lebih menyukai musik klasik,” ucap Linca.

“Yo, Linca. Musik klasik muncul dari abad sebelum Masehi. Hip Hop muncul tahun 70-an. Kalau saja Hip Hop muncul sebelum Masehi, Hip Hop akan disebut musik terkeren di sepanjang sejarah manusia, mengalahkan musik klasik,” papar Tomtom sambil menggerakkan tangannya ke depan silang kanan dan silang kiri. Aneh sekali.

“Kalau Hip Hop muncul di abad sebelum Masehi, adanya penyanyi Hip Hop bakal dibakar, karena disangka ngerapal sihir. Musiknya nge-jreng gitu.”

            Tomtom mematikan tape nya.

“Oke perhatikan. Coba pegang dada kalian seperti ini. Dengarkan baik-baik!”

“Kenapa?”

            “Setiap kita, punya musiknya sendiri. Coba dengar. Boom…Boom…Boom…” terang Tomtom sambil memukul pelan dadanya.

            “Itu namanya detak jantung! Bunyinya deg deg deg. Bukan musik!” protes Yoyok.

            “La…lala…laaa…lala…lala..la…” Linca bersenandung Cannon in D Mayor Johan Pachelbel.

            “Itu detak jantungnya lebih aneh lagi,” tunjuk Sigit ke Linca.

“Mungkin maksud Tomtom, membayangkan musik yang berkesan di hati kita, kalau aku saat ini mendengar musik alam, seperti suara-suara ketika kita berada tepi pantai,” tuturku perlahan.

“Kalau begitu, aku dengar gending Jawa,” ucap Yoyok.

“Aku musik metal. The Black Album Metallica,” ungkap Sigit. Membuat kami menoleh kepadanya yang sedang mengangguk-anggukkan kepala. Seakan musik tersebut sedang diputar. Lalu Sigit mulai bernyanyi.

Say your prayers little one
Don't forget, my son,
To include everyone
Tuck you in, warm within
Keep you free from sin
Till the sandman he comes
Sleep with one eye open
Gripping your pillow tight
Exit light Enter night
Take my hand
Off to never never land


[1]  Penganan tradisional masyarakat Tionghoa. Ketan hitam yang berisi daging dan sayur-mayur.

No comments:

Post a Comment