Follow Us @sangmaya

Tuesday, March 7, 2017

BODAS NOVEL -BAB 7 -Rumah Kosong dan Sumur Tua



Rumah Kosong dan Sumur Tua

Collect moments. Not things.

Persis di depan rumahku, terdapat rumah kosong dua tingkat, yang terlihat antik bekas peninggalan jaman Belanda, dengan pohon kapuk yang tinggi besar di halaman depan. Banyak orang yang bercerita bahwa pohon kapuk tersebut merupakan sarang kuntilanak dan genderuwo. Ada juga yang bilang pohon ini pernah digunakan oleh penjajah Jepang untuk menggantung orang.

Batang pohon kapuk berwarna putih, seputih susu, ranting-ranting tuanya seperti jari-jari seram yang kurus dan panjang, di film hantu-hantu barat yang pernah kutonton,  getah pohon kapuk berwarna merah kental. Apabila dilihat dari jauh pohon tersebut seperti berdarah.

Jika ada angin berhembus kencang menggoyangkan ranting-ranting pohon kapuk tersebut, nampak seperti monster kayu menyeramkan,  yang ingin mencengkram siapa saja yang lewat di  Jalan Wan Sagaf.

Rumah kosong ini terkenal banyak hantunya. Bahkan rumah itu dianggap tempat tongkrongan setan yang membuatku tertawa geli saat mengetahuinya, ternyata tidak hanya orang dewasa saja yang suka nongkrong, setan juga butuh tempat nongkrong.

 Cerita–cerita warga sekitar tentang rumah kosong, ada beragam yang mengaku pernah melihat pocong, genderuwo, lukisan di dalam rumah yang tertawa menyeringai, anak kecil berwajah bolong yang mengajak bermain, makhluk-makhluk aneh dengan mata merah menyala, sampai wanita Belanda berparas cantik berambut pirang bergelombang, yang  mengenakan baju putih ala putri bangsawan. Entah kenapa tidak seorang pun dari keluargaku, yang tinggal di depan rumah kosong itu, tidak pernah melihat sosok aneh di rumah tersebut.

***

Beberapa kali aku dan teman-teman sepermainan Ponti, Linca, Sigit, Yoyok dan Tomtom masuk ke halaman rumah tersebut. Awalnya tidak pernah dan tidak ada yang berani melewati pagar rumah kosong yang tidak terkunci.

Suatu hari kami terpaksa masuk, karena hanya ingin memungut bola kasti kami yang jatuh di halaman belakang rumah kosong. Aku dan teman-teman akhirnya masuk dan mencari bola kasti di antara rumput yang tingginya sebetis.

Setelah bola kasti ditemukan, halaman belakang rumah kosong ternyata sangat luas seperti lapangan bermain kami, dan juga banyak tanaman buah di sana seperti jambu air, jambu biji, belimbing, mangga dan pepaya, akhirnya permainan bola kasti berubah menjadi ngerujak bareng-bareng dari buah hasil curian.
 
Kami berenam mengambil buah hanya sebisa kami dan secepatnya. Halaman belakang rumah kosong ini memang seram, siang-siang saja hawanya terasa dingin seperti melewati kuburan di belakang sekolah seluas dua hektar. Kami membagi tugas mengambil buah yang ada, dan apabila sudah selesai harus langsung membantu yang lain.

Aku dan Linca ditugaskan mengambil jambu biji yang pohonnya berada di dekat sumur. Semakin mendekati sumur tersebut aku dan Linca merasa merinding seolah-olah ada yang mengamati kami.
“Jambu bijinya nggak usah aja ya, nanti setan di sumurnya keluar,” saran Linca  memegang lenganku.
“Mana ada setan muncul siang-siang,” bantah Sigit yang datang dari belakang kami, dia sudah selesai mengambil pepaya.

Setankan muncul kapanpun dia mau. Sengaja tidak kuucapkan. Aku takut menambah ketakutan Linca yang sejak masuk halaman rumah kosong ini terus merapat di dekatku. Repot kalau Linca sampai pingsan karena ketakutan. Bentuk tubuhnya mirip gentong air akibat tumpukan lemak yang disimpan di bawah kulitnya.

Sesampai di pohon jambu biji kami siap menangkap jambu biji yang dilempar Sigit dan Tomtom yang sudah memanjat pohon tersebut. Aku juga ingin memanjat, tetapi Linca menarik lenganku dan menggelengkan kepala supaya aku menemaninya saja. Selesai mendapat sepuluh jambu biji untuk kami berenam, semua berkumpul mengelilingi sumur dan melongok ke dalam sumur. 

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA…………….” Sigit mendadak berteriak kencang di dalam sumur. Suaranya bergema memantul di dinding sumur. 

Aku dan yang lain ikutan berteriak, lalu kami semua tertawa. Tanpa sadar, jumlah kami sudah menjadi tujuh orang. Mendengar sebuah tawa yang janggal kami memutuskan untuk diam dan melihat di sekeliling, tawa itu masih menggema cukup lama di dalam sumur.

“Udahan yuk, kita merujak di rumah Linca aja ya?” Aku memberi saran dan diiyakan oleh semuanya, kami berjalan cepat menjauhi sumur yang masih saja memantulkan suara tawa anak kecil.

Malam harinya setelah mengerjakan PR, dan hendak beranjak tidur aku seperti mendengar suara kaca pecah dan teriakan dari rumah kosong. Kuintip jendela kamar yang menghadap ke rumah kosong, semuanya tampak gelap dan tidak ada kejadian apa-apa atau suara teriakan lagi. 

***

Dingin terasa di sekujur tubuhku, kabut tebal menjelang pagi membuat pemandangan tidak terlalu jelas, aku berada di tengah-tengah halaman belakang rumah kosong. Ada seseorang yang menggunakan mantel hijau tua tebal bertudung kepala berjalan di depanku dan menuju sumur tua. Wajah orang tersebut tidak terlihat olehku. Sesampainya ia di pinggir sumur ia membuang sesuatu ke dalamnya. 

Aku menyaksikan dengan keheranan apa yang dilakukan orang itu di pagi buta begini? Apa yang ia buang? Sampah? Dan lebih herannya lagi kenapa aku bisa berada di sini menggunakan baju tidur dan memakai sandal?

Orang itu berdiri agak lama di dekat sumur memandangiku, wajahnya masih tidak terlihat karena tudung dari mantelnya. Perasaan takut yang bercampur keheranan membuatku pelan-pelan mundur berniat lari secepat mungkin keluar dari halaman dan kembali ke rumahku yang berada di seberang jalan. 

Jantungku berdegup kencang tidak berarturan ketika orang tersebut berlari ke arahku, aku pun ikut berlari menghindarinya. Sayangnya saat berlari kakiku menginjak pecahan kaca.

Aku menangis kesakitan sambil merayap di tanah keluar pagar halaman rumah kosong. Orang bermantel hijau sudah berada di sampingku, langkahnya memelan mengikuti tubuhku yang merayap berjuang menghindarinya. Tangannya mulai menutup mulutku agar tak mengeluarkan suara tangisan. 

Dia menutup mulutku dengan kuat sampai aku kesusahan bernafas, ia mengangkatku dari tanah lalu membawaku menuju sumur tua, aku meronta-ronta ketakutan tetapi  cengkramannya yang kuat membuatku tak bisa lepas darinya. 

Perasaan ngeri membuat tubuhku membeku ketika ia membawaku ke pinggir sumur. Dia mencampakkan aku ke dalam sumur itu. Tanganku berusaha menggapai-gapai apapun agar aku tidak terjatuh ke dalam air sumur yang dalam, tetapi tidak ada apa-apa yang bisa aku gapai selain udara. Aku terhempas masuk ke dalam air dan tenggelam.

Aku beranjak terbangun dari mimpi menyeramkan, aku merasakan air mataku  mengalir hangat di pipi, tubuhku basah kuyup akibat keringatan, nafasku terengah-engah, seperti mimpi tersebut benar-benar terjadi. Aku mulai merasa lega saat melihat kedua kakiku baik-baik saja. Kakiku memang dingin karena selimutku jatuh dari tempat tidur. 

Detak jantungku kembali normal, kuraih selimut yang jatuh. Aku berteriak kaget melihat ibu sudah berdiri di samping tempat tidur. Wajahnya masam melihat reaksiku seperti habis bertemu setan.

“Sebelum tidur itu cuci tangan, dan kaki lalu baca doa, biar nggak diganggu setan!” Ibu mengingatkanku dengan intonasi yang tinggi, lalu berpaling keluar dari kamarku.

Jadi…orang bermantel hijau tua dengan tudung kepala itu setan? pikirku dalam hati, aku komat kamit membaca doa yang panjang lalu kembali tidur tanpa mematikan lampu.

***

Besok harinya menjelang sore, ketika ingin memanen buah jarahan di rumah kosong, kami sepakat untuk tidak lagi mengambil jambu biji di dekat sumur mengingat kejadian aneh kemarin, apalagi ditambah mimpi burukku.

Tiba di halaman belakang rumah kosong, kami melihat pintu belakang rumah tersebut terbuka, padahal kami sangat yakin kemarin pintu belakang rumah masih tertutup rapat tidak bisa dibuka karena terkunci. Yoyok  melongok ke dalam, lalu kembali melihat kami berlima yang diam. 

“Masuk yuk,ajak Yoyok.

Rasa penasaran yang kuat membuat Aku, Tomtom, Ponti, Sigit, mengangguk, dan kami masuk ke dalam. Linca sempat menahan tanganku dan menggelengkan kepala. Di jidatnya kami membaca ,”Jangan masuk, pulang saja.
 
“Udah tidak apa-apa,kataku pada Linca menenangkannya, padahal perasaanku sendiri sangat tidak nyaman untuk kembali ke rumah kosong ini

Kami masuk  bergerombol ke rumah kosong yang dicap angker oleh warga sekitar sini. Lantai dan dinding-dinding kayu rumah ini sudah reyot dimakan rayap. Semua kaca-kaca jendelanya kusam, menghalangi cahaya matahari menembus dengan sempurna. 

Untungnya kami masuk di siang hari, apabila kami masuk saat malam hari sudah pasti rumah ini sangat gelap. Kaleng, botol-botol bekas minuman dan bungkus-bungkus rokok berserakan di lantai. 

“Berhenti!” Yoyok memberi komando dari barisan paling depan sambil mengangkat tangan kirinya sebagai kode untuk tidak melangkah lagi.

“Lihat,tunjuk Yoyok ke lantai di depannya. 

“Apa?“ tanya Sigit heran melihat lantai yang ditunjuk.

“Ya lihat lantainya,tegas Yoyok.

“Jejak kaki, Git ada jejak kaki di depan itu.“ 

Debu di lantai sangat tebal sehingga akan meninggalkan bekas apabila ada yang masuk dan menyentuh perabotan usang yang ditinggalkan penghuni rumah sebelumnya.

“Berarti ada orang yang tinggal di sini?“ bisik Ponti, Linca makin merangkul lenganku erat.

“DOORRR!!!” teriak Tomtom dari barisan paling belakang, untuk mengejutkan kami. Cina ceking satu ini ingin kujitak kepalanya, karena membuat Linca dan Ponti sontak memelukku erat.

 BRUKK!!! Terdengar bunyi sesuatu  jatuh dari lantai dua membuat kami semua menengadahkan kepala ke atas. Srreek.....Sreekk.....Srekk… terdengar suara gesekan di lantai dua. BRUKK!!! Ketakutan telah menguasai kami. Kami langsung lari keluar rumah kosong ke rumah Linca yang berada di sebelah.

Ternyata Ponti tertinggal, dan malah membeku dengan mata melotot ketakutan ke atas tangga yang menuju lantai dua. Celananya basah karena mengompol di tempat ia mematung.

Aku bersama Yoyok terpaksa berlari kembali menarik Ponti agar segera keluar rumah kosong. Sekilas aku melihat ke atas tangga, ada seorang wanita berambut panjang tanpa busana, berusaha turun tangga dengan merayap perlahan. Wajahnya berdarah, matanya melotot melihat kami, mulutnya ternganga seperti ingin menyampaikan sesuatu. Aku mengoncang badan Ponti agar cepat bergerak dan berlari keluar rumah.

“ADA SETANNN!!!...ADA SETAN DI SEBELAH!!!teriak Tomtom pada orang –orang di garasi rumah Linca, yang sedang sibuk mengangkat lauk-pauk ke mobil untuk didistribusikan ke berbagai tempat pelanggan katering ibunya. 

Nafas kami ngos–ngosan setelah berlari layaknya kilat. Asma Linca kumat dan segera ditolong oleh salah seorang karyawan katering ibunya. 

“Kalian habis dari rumah sebelah?” tanya Tante Banun, ibunya Linca setelah membantu menenangkan dan membawa anak bungsunya ke kamar.

“Iya, Nte…” jawabku pelan dengan perasaan bersalah.

“Rumah sebelah itu banyak setan, dan jadi tempat kumpulan orang enggak bener, jangan lagi main ke situ ya,” tegur Tante Banun agak kesal kepada kami semua. Ponti masih menangis terisak-isak akibat kejadian menyeramkan barusan.

Dua karyawan Tante Banun datang berlari ke kami, dan langsung menceritakan kejadian yang baru saja mereka lihat di dalam rumah kosong, mereka terpaksa masuk ke rumah kosong untuk mencari inhealer Linca yang terjatuh di sana, mereka juga melihat wanita berambut panjang terkapar di tangga yang menuju lantai dua. Tante Banun segera menghubungi polisi untuk melaporkan korban kriminalitas.

Yoyok, Sigit, Tomtom, dan Ponti pulang dijemput keluarganya masing-masing setelah dihubungi oleh Tante Banun, sedangkan aku cukup menyebrang jalan untuk sampai ke rumah. 

Tidak lama kemudian mobil polisi datang, disusul dengan ambulan.  Aku melihat dari depan rumah Kakek sambil memanjat balkon. Nenek yang sedang duduk di kursi kayu beranda depan memintaku untuk segera turun.

Kerumunan warga sudah ramai di depan rumah kosong. Beberapa polisi dan petugas medis keluar dari rumah tersebut sambil membopong tandu, di atasnya terbaring sosok perempuan berambut panjang dan kusut.
 
Aku melihat sosok tersebut menggunakan masker oksigen di hidung dan mulutnya, matanya terbuka dan tertutup perlahan, kulitnya begitu putih pucat seperti hantu sekalipun aku belum pernah melihat hantu, aku hanya dapat melihat perempuan itu sampai masuk ke dalam ambulan.

           “Cewek diperkosa Boy,ucap Om Akmal, kepada salah satu temannya yang baru datang di halaman depan rumah Kakek. 

            “Siapa?“ tanya temannya.

“Tauk siapa, kayaknya itu cewek diculik, terus diperkosa disitu, habis itu dibiarin di sana. Karyawan Tante Banun tadi yang nemuin,papar om Akmal ke temannya. 

“Ngapain karyawan Tante Banun ke rumah tersebut?“ 

“Kurang tau,” jawab Om Akmal singkat.

Sebenarnya aku mau protes karena yang menginformasikan terlebih dahulu adalah aku dan teman–teman yang iseng masuk ke rumah tersebut. Tetapi berhubung dari pada protesku malah membuat aku ketahuan main ke rumah kosong itu dan berakhir dengan omelan orang rumah, jadi aku diam sajalah.

Rupanya teriakan yang kudengar tadi malam, sebelum tidur, adalah teriakan perempuan itu yang meminta pertolongan. Muncul rasa sesal di diriku yang terlambat menyadarinya.

 Kerumunan warga pun akhirnya bubar, setelah ambulan dan mobil polisi pergi. Rumah hantu tersebut ditutup dan dipasang garis polisi berwarna kuning, seperti yang aku lihat di TV, tanda orang luar dilarang masuk.
 
Sebentar lagi azan maghrib akan berkumandang, sebelum masuk ke dalam rumah aku melihat kembali ke seberang jalan, di mana rumah kosong itu berada. Ada kaca jendela yang pecah di lantai dua. Mungkin wanita malang itu melempar sesuatu agar diketahui orang lain.

Agak lama aku memperhatikan jendela kaca lantai dua, dan tiba-tiba muncul sosok manusia menggunakan mantel hijau bertudung. Wajahnya tidak kelihatan. Sosok itu persis seperti yang muncul dalam mimpiku. 

Jantungku seakan meloncat keluar ketika tangannya terangkat dan menyentuh kaca jendela, penampakan tersebut membuatku langsung lari masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.

***

No comments:

Post a Comment