Follow Us @sangmaya

Wednesday, March 8, 2017

Pada Suatu Hari Nanti dan Malam Wabah Sapardi Djoko Damono

Pada Suatu Hari Nanti dan Malam Wabah Sapardi Djoko Damono - Pada suatu hari nanti jasadku tak akan ada lagi, tapi dalam bait-bait sajak ini kau tak akan kurelakan sendiri. Pada suatu hari nanti, suaraku tak terdengar lagitapi diantara larik-larik sajak ini kau akan tetap kusiasati. Pada suatu hari nanti impianku tak dikenal lagi. Namun disela-sela huruf sajak ini, kau tak akan letih-letihnya kucari.

Kesan pertama saya terhadap puisi Pada Suatu Hari Nanti By Sapardi Djoko Damono sangat menyentuh dan terasa penuh makna, cukup singkat tapi mengena. Makna puisi pada suatu hari nanti by Sapardi Djoko Damono secara garis besar berisi tentang harapan-harapan dan keyakinan dari seorang penulis akan dirinya dan karya-karyanya tidak dilupakan oleh waktu dan dapat tetap dibaca oleh banyak orang sampai kapanpun sekalipun penulis tersebut sudah lama wafat

Nonton Ketoprak Sampek - Kentaek, Solo 1950

Cinta selalu menyakitkan jika dibiarkan terpendam. 
Kenapa tidak kita munculkan saja ia. 
Bagai Bulan yang terbit di balik gunung.
Setiap kali merindukannya 
aku pun pergi tidur
agar ia muncul
di hadapanku
Ah, andai kata tahu itu mimpi belaka
Takkan mau aku kembali berjaga.
-Sapardi Djoko Damono

Cover depan buku kumpulan cerpen Pada Suatu hari nanti
cover depan kumpulan cerpen Pada suatu hari nanti
Nonton Ketoprak Sampek - Kentaek, Solo 1950

Cinta selalu menyakitkan jika dibiarkan terpendam. 
Kenapa tidak kita munculkan saja ia. 
Bagai Bulan yang terbit di balik gunung.
Setiap kali merindukannya 
aku pun pergi tidur
agar ia muncul
di hadapanku
Ah, andai kata tahu itu mimpi belaka
Takkan mau aku kembali berjaga.
-Sapardi Djoko Damono


 Malam Wabah Sapardi Djoko Damono

Cover belakang buku kumpulan cerpen Malam Wabah - Sapardi Djoko Damono
Cover belakang buku kumpulan cerpen Malam Wabah - Sapardi Djoko Damono

     Satu buku dua muka, itulah buku kumpulan cerita Pada Suatu Hari Nanti, karya Sapardi Djoko Damono. Buku ini hadiah dari seorang kawan Komunitas Buku Balikpapan. Mb Made Meilani. Sekalipun buku ini telah lama selesai saya baca, tetapi gaya cerita, puisi dan rangkaian sastra yang dibawakan oleh Sapardi Djoko Damono tidak pernah bosan untuk dibaca ulang.

Terdapat dua puluh dua kumpulan cerita dalam dua buah buku yang disatukan ini. Beberapa ceritanya juga terdapat sisipan puisi Sapardi. Cerita-cerita yang terdapat pada bagian buku Pada Suatu Hari Nanti berdasarkan dongeng dari pakem berupa tulisan maupun lisan, tetapi dimodif dan dan terjadi proses perkembangan ulang-alik. Seperti cerita Ken Arok, Nawangwulan, Kancil, Rama dan tokoh-tokoh dongeng lainnya  yang berniat keluar dari pakem cerita agar mendapatkan kisah baru.

Kumpulan kedua, Malam Wabah, berisi dongeng-dongeng baru karya Sapardi. Karyanya mengungkapkan cerita itu sendiri. Seperti ada narapidana, sepatu daun, gadis kecil, rumah, lelaki tua,  dan sebagainya.  Masing-masing cerita memiliki kehidupannya sendiri.
Halaman Pembatas antara dua bagian buku Pada Suatu Hari Nanti dan Malam Wabah.
 Pada suatu hari nanti pasti ada surat. katanya selalu setiap janda muda itu, Nawang, melihat kotak suratnya kosong. Nawang bekerja di kantor pos, menerima surat-surat yang akan dikirim entah kemana saja. Ia senang sekali bekerja di situ. Di antara begitu banyak surat. Ia suka membayangkan kebahagiaan orang yang mengirim dan menerima surat, meskipun tentu ada juga surat yang ditulis untuk menyampaikan berita buruk. (Paragraf pertama dari bagian cerita Pada Suatu Hari Nanti)

Judul kumpulan cerita bagian Pada Suatu Hari Nanti

Salah satu cerita yang berkesan bagi saya di bagian Pada Suatu Hari Nanti adalah kisah  Malin Kundang. Sebenar-benar dongeng Malin Kundang yang berjuang melawan takdir, agar luput dari kutukan Sang Ibu. Dalam cerita ini Malin tidak benar-benar menjadi batu seperti pakem cerita yang sudah kita ketahui.

 Cerita rakyat yang dimodifikasi oleh Sapardi. Malin disini menjadi gila karena mencari ibunya. Malin sudah lupa letak rumahnya, dan setiap perempuan yang ia temui pasti dikira ibunya. Hari demi hari Malin menunggu seorang perempuan yang ikhlas mau mengaku sebagai ibunya dan menerimapermintaan maafnya.





Malam Wabah.
Pada suatu malam,  sejumlah anak laki-laki berjalan membawa obor, telanjang bulat, mengitari kampung. Hadi, sepuluh tahun, ada di antara mereka.Anak-anak itu menyanyikan mantra bersama-sama dengan suara sekeras-kerasnya.

Pring, pring petung...
Anjang-anjang peli buntung...
Aja mandhek aja noleh...
Ana turuk gomblah-gembleh...


Judul Kumpulan cerita Bagian Malam Wabah


Malam wabah menceritakan tentang anak bernama Hadi yang terpaksa mengikuti adat di kampungnya untuk menghalau wabah. Hadi sangat malu melakukan adat itu karena ia harus bertelanjang bulat mengelilingi kampung, dan di lihat oleh banyak orang, terutama di hadapan Iyah, gadis kecil yang ia sukai. Hadi sebenarnya tidak keberatan berlari keliling kampung bertelanjang bulat. tetapi ia tidak ingin Iyah melihatnya seperti itu.

Selain cerita Malam Wabah yang menarik, ada juga cerita tentang rumah-rumah yang seperti memiliki jiwa masing-masing, hidup dan saling bertukar cerita tentang penghuni-penghuni dalam rumah.



Cerita Bingkisan lebaran juga menarik saya, cerita seorang gadis kecil yan g lahir dan besar di kota, akan tetapi kabur dari rumah begitu saja, dan menyuruh seorang anak jalanan sebayanya untuk mendatangi rumahnya, agar membantu ibunya sehari-hari. Sang Ibu telah lama mencari dan menanti anaknya yang hilang, menerima kedatangan anak itu. alau ia bawa pulang ke kampung halamannya


.







1 comment:

  1. Kunungan Perdana nih kawan......mampir ke hums ane yach....salam kompak selalu bloger indonesia

    Bawa Happy Aja - Enjoy Your Life

    ReplyDelete